Aku duduk sendiri di bangku taman sekolah. Taman itu terlihat sepi,tak ada seorang pun yang berlalu di dekatku. Yang ku rasakan hanyalah hembusan lembut angin yang menerpa wajahku. Aku terdiam mematung memandangi rerumputan yang bergoyang. Mengenadahkan wajahku,mencari awan putih yang berarak di atasku. Sinar matahari yang menyilaukan pandangan ku memaksa agar aku segera menundukkan kepalaku. Hingga tak ku sadari seorang lelaki tengah duduk termanggut di sampingku.
Namaku Aerlin. Seorang mahasiswi yang beruntung bisa bersekolah di universitas seelit ini. Ya,semua itu berkat kepintaran yang dianugerahkan Tuhan kepadaku. Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku ke Oxford University. Sebelumnya aku tak pernah membayangkan akan bersekolah di universitas yang sangat diidamkan oleh banyak orang ini. Mungkin kebanyakan dari orang-orang akan menyebutkan satu kata yang tak aneh lagi. Beruntung !
Tetapi sesungguhnya ini hanyalah derita yang tak bertepi bagi diriku. Kau tahu kenapa ? Aku sungguh tersiksa meneruskan pendidikan di sini. Aku merasakan bagaikan seorang yang tak mampu berbuat apa-apa. Ditambah lagi aku tak punya teman dekat satu orang pun. Aku sadar,sadar betul malah,mana mungkin ada salah seorang mahasiswa atau mahasiswi di sini yang ingin berteman denganku. Ughh...rasanya mustahil !
Lelaki yang duduk di sampingku tersenyum menatapku. Aku pun kembali tersenyum kepadanya. Aku rasa dia orang asia juga,tapi entahlah. Aku malas bertanya kepadanya,mungkin aku lebih baik diam saja. “Sudah lama duduk di sini ?” sapa lelaki berbaju Merah itu. “Cukup lama tepatnya.” Kataku seraya tersenyum simpul. Ternyata dia bisa berbahasa Indonesia juga,kemungkinan besar dia satu negara denganku. “Bolehkah aku duduk di sini bersamamu?” tanyanya penuh ragu. Aku mengangguk dan kemudian mencoba untuk menggeser tubuhku. “Udaranya terasa begitu nyaman,mungkin akan lebih nyaman lagi kalau kita berkenalan dulu. Boleh?” senyumnya terlihat merekah. Tanpa basa-basi langsung saja aku ulurkan tangan kepadanya. “Namaku Aerlin. Mahasiswi jurusan Hukum.Tingkat dua.” Jelasku singkat. “Oh okey,senang berkenalan denganmu Aerlin. Aku Daniel,mahasiswa jurusan kedokteran tingkat tiga.” ku lihat dia tersenyum begitu manis kepadaku. Dari sana lah aku dan dia terus berbincang-bincang. Sampai tak terasa waktu istirahat telah berakhir.
Bergegas aku kembali ke kelas,begitupun dengan Daniel.
***
Sudah hampir tiga minggu aku aku mengenal Daniel. Dan selama itu pula aku tak merasakan kesan menderita lagi. Aneh,entah kenapa. Mungkin karena aku sudah mempunyai teman yang menurutku sehati,dia lah Daniel. Setiap bertemu dengannya hatiku terasa nyaman. Aku merasakan kembali keceriaan yang dulu sempat hilang dari daftar hidupku. Aku merasa bahagia bisa berteman dengannya.
Suatu hari Daniel mengajakku untuk dinner. Karena kebetulan saat itu aku tak ada acara apapun,maka aku segera menyetujuinya. Tentu,aku tak akan melewati kesempatan emas untuk dinner bersama lelaki sebaik,sepintar,dan setampan Daniel.
Malamnya tepat pukul 8.00 Daniel menjemputku di kost-an. Aku yang bergaunkan merah marun mendapatkan sanjungan darinya. “Kamu terlihat lebih cantik dan mempesona malam ini. Pantas saja Inggris ditaburi banyak bintang.” sanjungannya membuat aku tersipu malu dan tak akan pernah aku lupakan.
Sesampainya di sebuah restaurant mewah aku tercengang. Jujur,aku tak pernah dapati masuk ke restaurant ini dan inilah pertama kalinya aku dinner dengan seorang lelaki yang dekat denganku.
Suasana dinner pertamaku terasa begitu sangat romantis. Lilin-lilin yang menyala di sekeliling kami,taburan bunga mawar yang mewarnai suasana,alunan musik sederhana dari para pemain biola itu,dan rasanya kurang lengkap jika tak ditambahi setangkai bunga mawar merah dari Daniel.
Sungguh,malam itu aku benar-benar tersanjung. Aku merasa menjadi seorang putri yang dimanjakan pangerannya. Namun,sungguh disayangkan,Daniel bukanlah pangeranku.
Makanan yang kami makan sudah habis. Saatnya untuk pulang.
Saat aku hendak beranjak dari tempat dudukku,tanpa ku duga Daniel menggenggam tanganku. Seketika tanganku berubah menjadi dingin,hatiku terasa luluh. Aku menundukkan kepalaku karena aku tak kuasa jikalau harus memandang matanya. Sebenarnya sudah sangat lama aku menyukai Daniel namun,semua perasaan itu aku pendam sendirian. “Bismillah. Aku menyukaimu,Aerlin.” terdengar kata-kat itu begitu lirih diucapkannya. Aku terpana,memandangnya pekat-pekat. Ku selidiki bola matanya,ku coba mencari kepalsuan-kepalsuan yang melayang-layang di sana. Tak ku temukan. Yang ku dapati adalah berjuta kesungguhannya.
Bergegas ku pejamkan mata ini,aku harap ini bukanlah mimpi belaka. Dan benar saja,ini nyata,bukan mimpi. “Apa...apa maksud kamu?” tanyaku tertahan-tahan. “Ku jelaskan dari awal. Sesungguhnya aku telah lama memata-mataimu,semenjak adanya kehadiranmu di sekolah kita aku merasakan semangat. Semangat itu aku dapat saat aku melihat wajahmu dan kepribadianmu. Intinya,maukah kamu menjadi kekasih hatiku,menghuni jiwa dan hati yang tengah dilandai sepi ini?” jelasnya dengan semangat yang berkobar. “Atas restu Allah aku terima cerita cintamu....” aku tiba-tiba mendadak menjadi salah tingkah. Daniel mengernyitkan dahinya. “Cerita cintaku? Bagaimana dengan perasaan cintaku yang bergejolak ini kepadamu,Aerlin Tinaria?”. Aku tersenyum,aku rasa senyum paling manis dalam hidupku. Kini jemari-jemari tanganku yang kecil bersentuhan dengan tangannya. Ku genggam tangannya tak kalah erat. “Apapun yang terjadi aku terima perasaan cintamu. Dan aku bersumpah,sebenarnya aku mencintaimu. Dan asal kau tahu,cintaku tak kalah besarnya dengan cintamu kepadaku.”. Entahlah,kata-kata itu terlontar dengan sendirinya dari bibirku.
Daniel menatapku dengan berbinar-binar. “Sungguhkah semua ini?” aku pun mengangguk pelan dan sedikit berbisik kepadanya. “Sesungguhnya semua ini benar-benar terjadi. Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku.”
Sejak saat itulah aku dan Daniel resmi menjadi sepasang kekasih. Tak ku kira dia sangatlah romantis. Sudah lama aku meminta sebuah cinta dalam hidupku kepada Tuhan namun,tak pernah ku dapat sebuah cinta yang sesungguhnya. Semuanya hanya imajinasi semata,hanya sebuah harapan kosong yang diberikan banyak lelaki bajingan kepada kaum wanita sepertiku. Hanya ingin memanfaatkan ku saja. Tapi,kini Allah mendengar do’aku. Dia berikanku sebuah cinta yang luar biasa dan kepada Daniel lah cinta itu dapat ku persembahkan. Tuhan pun anugerahkan ku kasih dan hanya bersama Daniel lah kasih itu dapat ku bagi.
Ternyata memang benar,tanpa cinta hidup kita akan terasa hampa. Namun cinta itu akan hadir bila ada restu dari Alloh SWT. Aku harap,aku bisa memanfaatkan kesempatan ini. Terima kasih banyak ya Alloh,karena semenjak kehadiran Daniel di sisiku,aku tak pernah merasakan hal yang menderita. Melainkan bahagia selama-lamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar