Sebutir debu yang masih kusimpan, adalah cinta; pagi yang masih kukenang.
Di altar berdebu, kita adalah sepasang pengantin yang dinikahkan masa lalu, merajut cerita mencipta kenang.
Bila debu rinduku menghalangi pandangmu, sematamata aku ingin memenuhi matamu dengan kata cinta.
rindu untukmu serupa debu. waktu kian laju. kini rindu menjelma semeru. menunggu kau daki dengan berseru namaku.
Jamahlah rindu kita pada debu merah jambu; sebelum warnanya kembali abu-abu.
Adalah aku; debu jalanan yang terhapus hujan. Di matamu, dikenal hanya sebagai rasa sakit.
Temuilah debu di buku tua. Ia, rinduku yang menjadi marka, penjaga huruf-huruf yang menasbihkan namamu sukacita.
Jika aku debu; maka kau, kenangan yang mengabu. Kita saling hapuskan ragu, memantrai waktu, kekalkan rindu.
Jika aku debu, maka kau kenangan yang melekat di bahuku. Bersama kita terbang melintas waktu, melipat ragu.
Bayanganmu seringkali datang sebagai debu, masuk ke mata dan memecahkan tangisku.
Aku sering merasa hanya sebutir debu, hinggap sebentar saja, lalu kaukibaskan dari pikiranmu.
Yang pergi biar debu saja, luka biarlah membekas dan menjadikan aku sebagai rasa paling tegas.
Sepiku bagaikan debu, yang selalu kausapu dengan tawamu.
Rinduku hanya kebisuan, dari masa lalu yang telah engkau lewatkan. Serupa debu, terlihat namun tak diinginkan.
Lebih dahulu, jauh sebelum rindu memiliki nama; seluruh hasratku telah tersebut,kau.
Merebahlah di dadaku, sayang. Rasakan detak jantungku. Ia memburu, karena rindu.
Di altar berdebu, kita adalah sepasang pengantin yang dinikahkan masa lalu, merajut cerita mencipta kenang.
Bila debu rinduku menghalangi pandangmu, sematamata aku ingin memenuhi matamu dengan kata cinta.
rindu untukmu serupa debu. waktu kian laju. kini rindu menjelma semeru. menunggu kau daki dengan berseru namaku.
Jamahlah rindu kita pada debu merah jambu; sebelum warnanya kembali abu-abu.
Adalah aku; debu jalanan yang terhapus hujan. Di matamu, dikenal hanya sebagai rasa sakit.
Temuilah debu di buku tua. Ia, rinduku yang menjadi marka, penjaga huruf-huruf yang menasbihkan namamu sukacita.
Jika aku debu; maka kau, kenangan yang mengabu. Kita saling hapuskan ragu, memantrai waktu, kekalkan rindu.
Jika aku debu, maka kau kenangan yang melekat di bahuku. Bersama kita terbang melintas waktu, melipat ragu.
Bayanganmu seringkali datang sebagai debu, masuk ke mata dan memecahkan tangisku.
Aku sering merasa hanya sebutir debu, hinggap sebentar saja, lalu kaukibaskan dari pikiranmu.
Yang pergi biar debu saja, luka biarlah membekas dan menjadikan aku sebagai rasa paling tegas.
Sepiku bagaikan debu, yang selalu kausapu dengan tawamu.
Rinduku hanya kebisuan, dari masa lalu yang telah engkau lewatkan. Serupa debu, terlihat namun tak diinginkan.
Lebih dahulu, jauh sebelum rindu memiliki nama; seluruh hasratku telah tersebut,kau.
Merebahlah di dadaku, sayang. Rasakan detak jantungku. Ia memburu, karena rindu.


