Kamis, 01 Desember 2011

Rinduku layaknya Debu

Sebutir  debu yang masih kusimpan, adalah cinta; pagi yang masih kukenang.
Di altar berdebu, kita adalah sepasang pengantin yang dinikahkan masa lalu, merajut cerita mencipta kenang.
Bila debu rinduku menghalangi pandangmu, sematamata aku ingin memenuhi matamu dengan kata cinta.
rindu untukmu serupa debu. waktu kian laju. kini rindu menjelma semeru. menunggu kau daki dengan berseru namaku.
Jamahlah rindu kita pada debu merah jambu; sebelum warnanya kembali abu-abu.
Adalah aku; debu jalanan yang terhapus hujan. Di matamu, dikenal hanya sebagai rasa sakit.
Temuilah debu di buku tua. Ia, rinduku yang menjadi marka, penjaga huruf-huruf yang menasbihkan namamu sukacita.
Jika aku debu; maka kau, kenangan yang mengabu. Kita saling hapuskan ragu, memantrai waktu, kekalkan rindu.
Jika aku debu, maka kau kenangan yang melekat di bahuku. Bersama kita terbang melintas waktu, melipat ragu.
Bayanganmu seringkali datang sebagai debu, masuk ke mata dan memecahkan tangisku.
Aku sering merasa hanya sebutir debu, hinggap sebentar saja, lalu kaukibaskan dari pikiranmu.
Yang pergi biar debu saja, luka biarlah membekas dan menjadikan aku sebagai rasa paling tegas.
Sepiku bagaikan debu, yang selalu kausapu dengan tawamu.
Rinduku hanya kebisuan, dari masa lalu yang telah engkau lewatkan. Serupa debu, terlihat namun tak diinginkan.
Lebih dahulu, jauh sebelum rindu memiliki nama; seluruh hasratku telah tersebut,kau.
Merebahlah di dadaku, sayang. Rasakan detak jantungku. Ia memburu, karena rindu.



»»  Baca selengkapnya...

Atas Nama Cinta


Kamu bisa saja menerjemahkan cinta dengan ribuan kata. Aku cukup menerjemahkannya dengan satu nama.
Namamu kusapa dengan seluruh kata-kata, yang menggaungkan berbagai gema menemui gaibnya, dan cinta menyebutnya doa.
pada mahoni tua, tersimpan gurat cinta yang mempertautkan nama kita. tersayat sejak dahulu, saat rindu masih belia.
Berulangkali aku meniti mahoni; mencari batang yang tabah tempat ukiran nama kita, dan guratan rindu yang menua.

Cinta, nama perahu yang membawaku. Sedang rindu, huruf-huruf yang membakarku sepanjang sungai menuju jantungmu.
ada yang lebih tabah dari guguran bunga kemboja, cinta, tak henti memekikan nama dan airmata mengaminkannya dalam doa.
sudah selesai kuarungi semesta kata, pengembaraanku terhenti di namamu, sebaris kata yang tak habis kupuisikan.
Atas nama cinta, aku ingin selalu bersamamu dengan kebahagiaan. Sesudahnya, akan kugarisbawahi nama kita dengan pena keabadian.

Ada yang menulis namamu di selembar daun yang telah jatuh pada musim gugur. Sebagai kekasih, yang tak sempat kukenali.
Kamu, sebuah nama yang biasa-biasa saja. Yang biasa kuselipkan dalam doa shalatku. Yang kusebut setiap aku mengadu pada-Nya.
Mungkin Tuhan tersenyum, pun terbahak. Setiapkali kusebut namamu dalam doa; memintakan takdir yang tak pernah Ia tuliskan.
Bahkan Tuhan mungkin tak tahu, namamu telah lama kusebut dalam doa-doa; nyata kutulis dengan bening tinta air mata.

kita telah sampai pada ujung kesedihan, puncak segala kebahagiaan; sebuah pantai yang tak sempat kita beri nama, Cinta.
Kelak, nama yang kaubuang jauh-jauh dari pikiranmu, mungkin akan kautemukan lagi jauh di dalam hatimu.
Ada namamu yg terselip dalam setiap inginku sebelum ku mengucap amin.
Langit memberi kita nama, yang tergelincir dari pucuk payung; untuk kita rayakan rindu dalam kecipak air mata.




»»  Baca selengkapnya...

Hujan

Bukankah PETIR yang menggetar-getar itu ratapanku? Maka hentilah hujan, sediakan nampan, tampung rintiknya.
langit begitu fasih membaca hati, hadirkan hujan tanpa kilatan petir, ia hadir lebih dulu dalam rindu yang paling getir.
Gemeletar petir di luar sana, tak lebih menakutkan dari kehilangan, yang tak pernah bisa kita pertanggung jawabkan.
Secepat petir, bayangmu menyambar ke setiap sudut ingatan, menyalakan api rindu yang lama terpadamkan.
Hatiku riak laut tanpa gelombang. Kemudian cintamu datang, serupa petir menyambar; menunggangi arus pasang.
Kerinduan itu seperti petir tanpa gelegar; berkelebat menerangi ingatan, namun tak membuat sepi di hatiku berlalu pergi.
Yang membuatku takut saat hujan bukanlah petir yang berhamburan, tapi langkahmu, yang mengawali sebuah kehilangan.

»»  Baca selengkapnya...