Kamis, 01 Desember 2011

Atas Nama Cinta


Kamu bisa saja menerjemahkan cinta dengan ribuan kata. Aku cukup menerjemahkannya dengan satu nama.
Namamu kusapa dengan seluruh kata-kata, yang menggaungkan berbagai gema menemui gaibnya, dan cinta menyebutnya doa.
pada mahoni tua, tersimpan gurat cinta yang mempertautkan nama kita. tersayat sejak dahulu, saat rindu masih belia.
Berulangkali aku meniti mahoni; mencari batang yang tabah tempat ukiran nama kita, dan guratan rindu yang menua.

Cinta, nama perahu yang membawaku. Sedang rindu, huruf-huruf yang membakarku sepanjang sungai menuju jantungmu.
ada yang lebih tabah dari guguran bunga kemboja, cinta, tak henti memekikan nama dan airmata mengaminkannya dalam doa.
sudah selesai kuarungi semesta kata, pengembaraanku terhenti di namamu, sebaris kata yang tak habis kupuisikan.
Atas nama cinta, aku ingin selalu bersamamu dengan kebahagiaan. Sesudahnya, akan kugarisbawahi nama kita dengan pena keabadian.

Ada yang menulis namamu di selembar daun yang telah jatuh pada musim gugur. Sebagai kekasih, yang tak sempat kukenali.
Kamu, sebuah nama yang biasa-biasa saja. Yang biasa kuselipkan dalam doa shalatku. Yang kusebut setiap aku mengadu pada-Nya.
Mungkin Tuhan tersenyum, pun terbahak. Setiapkali kusebut namamu dalam doa; memintakan takdir yang tak pernah Ia tuliskan.
Bahkan Tuhan mungkin tak tahu, namamu telah lama kusebut dalam doa-doa; nyata kutulis dengan bening tinta air mata.

kita telah sampai pada ujung kesedihan, puncak segala kebahagiaan; sebuah pantai yang tak sempat kita beri nama, Cinta.
Kelak, nama yang kaubuang jauh-jauh dari pikiranmu, mungkin akan kautemukan lagi jauh di dalam hatimu.
Ada namamu yg terselip dalam setiap inginku sebelum ku mengucap amin.
Langit memberi kita nama, yang tergelincir dari pucuk payung; untuk kita rayakan rindu dalam kecipak air mata.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar